Sakramen Imamat

Berlangganan Tulisan Terbaru dari Kloter 2000 by Email. Gratis !!! Klik Disini
Wednesday, November 3, 2010
bisnis paling gratis

Kategori : Sakramen Gereja Katolik
 
SUKSESI APOSTOLIK DAN SAKRAMEN IMAMAT
Salah satu sifat gereja adalah apostolik dimana gereja itu harus menunjukkan (menampakkan) ciri-ciri rasuli (lih Ef 2:20) karena dibangun diatas para Rasul dengan Kristus sebagai batu Penjurunya, tentu pula dengan Petrus sebagai kepada dewan para rasul seperti yang Yesus sendiri kehendaki (bdk Mat 16:18-22;Yoh 21:15; Kis 2:14; dll).

Konsekuensi dari gereja yang mempertahankan sifat gereja yang Apostolik adalah mempunyai suksesi apostolik, dengan adanya suksesi Apostolik maka kedudukan para rasul dan Petrus sebagai kepala dewan para rasul dapat tergantikan, dengan demikian kelangsungan Gereja dapat terjamin sesuai kehendak Yesus sendiri kepada Gerejanya (bdk Mat 28:20).

Suksesi apostolik dalam Gereja perdana bisa kita lihat pada misalnya penggantian Yudas Iskariot oleh Matias (Kis 1), Pengangkatan beberapa Pelayan dalam jemaat, dll. caranya itu dilakukan dengan penumpangan tangan (bdk Kis 6:6;Itim 5:22, dll) dan fungsinya adalah menggantikan kedudukan para rasul (bdk Kis 14:23).

Suksesi Apostolik dipertahankan oleh Gereja Katolik dan Gereja Ortodoks, kita percaya bahwa meskipun alkitab tidak secara tegas menyatakan tentang suksesi Apostolik, tetapi alkitab memberikan gambaran tentang hal itu dan juga Tradisi Suci juga menegaskan hal yang sama.

Gereja yang mempertahankan suksesi Apostolik, memiliki ciri-ciri antara lain memiliki kesatuan dalam hal iman, ajaran, tata ibadat, hirarki, dll dimanapun komunitas itu berada, dimana Gereja sekarang sama seperti Gereja para rasul, dimana para jemaat bertekun dalam pengajaran para rasul (lih Kis 2:42). Dimana Gereja yang sekarang sama seperti Gereja pada masa Bapa-Bapa Gereja dan akan tetap sama sampai kepada akhir jaman.

Pembahasan mengenai suksesi Apostolik berkaitan erat dengan sakramen Imamat, karena dengan adanya Sakramen ini maka dimungkinkan adanya Suksesi Apostolik dan dengan menerima sakramen Imamat dari mereka yang memiliki Suksesi apostolik yang sah maka penerima akan turut ambil bagian dalam Imamat Kristus (secara khusus) sebagai Imam, karena hal inilah Gereja percaya bahwa Tahbisan Suci itu benar-benar merupakan suatu Sakramen.

Sakramen Tahbisan diberikan oleh Uskup kepada mereka yang telah mendapat tahbisan diakon. Sakramen ini mendapat tempat dalam kitab suci sebagai contoh kita dapat lihat di
Kis 14:23 
"Di tiap-tiap jemaat rasul-rasul itu menetapkan penatua-penatua bagi jemaat itu dan setelah berdoa dan berpuasa, mereka menyerahkan penatua-penatua itu kepada Tuhan, yang adalah sumber kepercayaan mereka" 
juga pada Kis 20:17,28. kemudian bila kita perhatikan dalam
1Kor 12:28
"Dan Allah telah menetapkan beberapa orang dalam Jemaat: pertama sebagai rasul, kedua sebagai nabi, ketiga sebagai pengajar." 
Jadi disini jelas bahwa dalam Gereja ada pembedaan fungsi dan peran yang masing-masing memiliki jenjang tersendiri.

Pentahbisan para pelayan gereja ini juga ditunjukkan dengan penumpangan tangan untuk jelasnya lihat Kis 6:6, Kis 13:3. disini jelaslah bahwa sakramen imamat memiliki dasar kitab suci dan sakramen imamat akan lebih jelas lagi bila Tradisi Suci yang menjelaskannya. berikut komentar Teolog Besar Gereja Katolik
"Kristus adalah sumber setiap imamat; karena imam hukum [lama] citranya. Tetapi imam Perjanjian Baru bertindak atas nama Kristus" (Thomas Aquino, s.th 3,22,4) 

Berikut pula beberapa kesaksian Bapa-Bapa Gereja tentang Sakramen Imamat dan Suksesi Apostolik:

1."Bapa, Engkau yang mengenal hati, berilah kepada para pelayan-Mu, yang telah Engkau panggil untuk martabat Uskup, supaya ia menggembalakan kawanan-Mu yang kudus dan melaksanakan di hadirat-Mu imamat yang agung ini tanpa cacat, dengan melayani Engkau siang dan malam.

Semoga ia tanpa henti-hentinya membuat wajah-Mu menyinarkan belas kasihan dan semoga ia membawakan persembahan Gereja-Mu yang Kudus. Semoga ia berkat roh imamat yang agung ini mempunyai kekuasaan untuk mengampuni dosa sesuai perintah-Mu. Semoga ia membagi-bagikan tugas sesuai dengan aturan-Mu dan membuka ikatan berkat kekuasaan yang telah Engkau berikan kepada para rasul-Mu. Semoga ia berkenan kepada-Mu oleh kelemahlembutan dan oleh hatinya yang murni, waktu ia mempersembahkan kepada-Mu keharuman yang menyegarkan dengan perantaraan Yesus Kristus anak-Mu...." (Hipolitus, trad. ap. 3)

2."Semua orang harus menghormati diaken seperti Yesus Kristus, demikian pula Uskup sebagai citra Bapa, tetapi Presbiter sebagai dewan Allah dan sebagai persekutuan para rasul. Tanpa mereka tidak ada Gereja" (Ignasius dari Antiokia, Trall. 3,1)

10."Tuhan telah mengatakan dengan jelas bahwa usaha untuk kawanan-Nya adalah suatu bukti cinta terhadap-Nya" (Yohanes Krisostomos, sac 2,2)

Sakramen Imamat dipertahankan oleh Gereja yang benar-benar memiliki sifat apostolik dan dengan demikian benar-benar memiliki Suksesi Apostolik yang sah. Sakramen Imamat juga menimbulkan 'cap' yang tidak dapat dihapuskan sama seperti Yesus yang adalah imam untuk selamanya, demikian pula mereka yang ambil bagian dalam imamat khusus Yesus (dengan ditahbiskan) juga memiliki karunia Imamat itu selamanya (lih KGK 1581 & 1582)

SELIBAT
Selibat merupakan suatu aturan tersendiri dalam Ritus Latin. sedangkan dalam Ritus Timur para Imamnya diperbolehkan untuk menikah (sebelum ditahbiskan) tetapi sesudah ditahbiskan mereka tidak boleh menikah, sedangkan para Uskup dipilih dari mereka yang selibat.

Selibat dalam Ritus Latin sebenarnya memiliki landasan Kitab Suci yang kuat antara lain Matius 19:21 dimana disana jelas dinyatakan bahwa ada orang yang memang selibat karena kerajaan Allah. dan dalam 1 Kor 7:7-38 Paulus membicarakan masalah selibat meskipun ia berbicara pula masalah perkawinan, Paulus menganjurkan agar orang selibat jika memang itu karunianya. dan dalam ayat 32-33 dan 35 Paulus mengatakan bahwa dengan selibat maka orang dapat melayani Tuhan tanpa gangguan. Pada 1 Kor 7:20 dikatakan
"baiklah tiap-tiap orang tinggal dalam keadaan, seperti waktu ia dipanggil Allah.", 
kita tahu bahwa menjadi Imam adalah panggilan Allah sendiri dari sejak awal mula hidup kita didunia ini (lih Yer 1:5)  meskipun kita sendiri dikarunai kehendak bebas. Nah  St. Paulus mengatakan bahwa
"baiklah tiap-tiap orang tinggal dalam keadaan, seperti waktu ia dipanggil Allah." 
Berarti seseorang yang terpanggil mejadi Imam lebih baik selibat karena menuruti ajuran Paulus ini dan mengingat beberapa hal yang diatas tersebut.

Silahkan Beri Komentar di kloter 2000 0 comments:

Post a Comment