Santa Theresia Lisieux Pujangga Gereja Bag. 1

Berlangganan Tulisan Terbaru dari Kloter 2000 by Email. Gratis !!! Klik Disini
Tuesday, November 23, 2010
bisnis paling gratis

Pada bulan Januari 1889 Theresia menjadi seorang novis, dan akhirnya tanggal 8 September 1890, dia melakukan profesi penuh sebagai anggota komunitas Karmelit, dan mengambil nama Sr. Therese dari Kanak-kanak Yesus dan Wajah Suci. (Baca Perjalanan Hidup Santa Theresia Lisieux)

Pada tahun 1894, ayahnya yang dikasihinya wafat setelah menderita sakit keras dan kakak perempuannya Pauline yang sekarang telah menjadi ibu kepala biara, Mother Agnes, menyuruhnya untuk menuliskan memori masa kecilnya. Inilah awal mula manuskrip yang nantinya dikenal sebagai buku "Story of a Soul". Tulisan ini terdiri dari tiga manuskrip yang terpisah.

Delapan pasal dari manuskrip A ditulis antara Desember 1894 dan Januari 1896, atas perintah Mother Agnes. Manuskrip B (pasal 9) menyangkut panggilan kasih, ditulis di bulan September 1896 dan dialamatkan kepada Yesus. Akhirnya, manuskrip C (pasal 10-11), ditujukan kepada Mother Marie de Gonzague, ditulis pada bulan Juni 1897 dan menjelaskan hari-hari terakhirnya dan pengalaman "malam kegelapan" yang dimulai pada 5 April tahun sebelumnya dan terus berlangsung hingga wafatnya.

Pada percobaan yang dialaminya ini, Therese kehilangan rasa kehadiran Allah dan dia tinggal di tengah-tengah kegelapan dimana segala rasa sukacita meningalkannya. Pasal-pasal terakhir dari Story of a Soul ini merupakan inti dari pesan-pesan Therese.

Selama 18 bulan terakhir dari penyakit yang dideritanya (April 1896 - wafatnya 30 September 1897), sewaktu dia menjelang ajalnya akibat serangan TBC, Therese biarawati Karmelit yang masih muda dari biara di Lisieux, mencoba tetap berkorespondensi dengan sejumlah orang-orang yang dikaguminya selama beberapa tahun pertama masa pengabdiannya di tarekat religius wanita yang paling ketat itu.

Seringkali dia tidak dapat memegang pen karena penderitaannya, akan tetapi dia masih dapat melanjutkan karya refleksi autobiografinya dan juga menulis beberapa suratnya yang sangat menyentuh.

Salah satu surat tersebut mungkin bisa menjadi indikator mengapa biarawati yang masih muda ini, meskipun tidak memiliki pendidikan teologis secara formal, diangkat menjadi Pujangga Gereja seratus tahun setelah wafatnya, oleh Sri Paus

Selama bulan-bulan terakhirnya keinginannya untuk menjadi misionaris, bahkan seorang doktor, menjadi suatu keyakinan diri sebagaimana dia menyerahkan dirinya sendiri sepenuhnya kepada Allah. Diantara percakapannya dalam bulan-bulan terakhir hidupnya, berikut ini tercatat pada tanggal 17 Juli 1897: "Aku merasa bahwa misiku baru akan dimulai, misiku untuk membuat orang-orang lain mengasihi Allah seperti aku mengasihi-Nya, misiku untuk mengajarkan jiwa-jiwa tentang Cara-cara Kecilku.

Jika Allah menjawab permintaanku, waktuku di surga akan dihabiskan di dunia ini hingga akhir dunia. Ya, aku ingin menjalani surgaku di atas bumi dengan melakukan kebaikan."

Pada tanggal 30 September 1897, Theresia meninggal dunia ketika usianya masih duapuluh empat tahun. Sebelum wafat, Theresia berjanji untuk tidak menyerah pada rahasianya. Ia berjanji untuk tetap mencintai dan menolong sesama dari surga. Sebelum meninggal Thresesia mengatakan, “Dari surga aku akan berbuat kebaikan bagi dunia.” Theresia memandang salib dan berbisik, “O, aku cinta pada-Nya, Tuhanku, aku cinta pada-Mu!”

Dan ia menepati janjinya! Semua orang dari seluruh dunia yang memohon bantuan St. Theresia untuk mendoakan mereka kepada Tuhan telah memperoleh jawaban atas doa-doa mereka.

Bersambung Santa Theresia Lisieux Pujangga Gereja Bagian 2.
Dapatkan juga Lembaran Doa Santa Theresia dari Lisineux

(Posted By.Kloter 2000) dari berbagai sumber.

Silahkan Beri Komentar di kloter 2000 0 comments:

Post a Comment