Showing posts with label doa-doa katolik. Show all posts
Showing posts with label doa-doa katolik. Show all posts

Praktik Penumpangan Tangan Hal. 2

Berlangganan Tulisan Terbaru dari Kloter 2000 by Email. Gratis !!! Klik Disini
Tuesday, March 8, 2011
bisnis paling gratis

Penumpangan tangan berarti pula sebagai tanda cinta persaudaraan kita kepada orang yang didoakan

Siapakah yang boleh?

Didalam Perjanjian Baru, penumpangan tangan dilakukan oleh Yesus (Mk 6 : 5; 8 : 23), kelompok 12 rasul ( Kis 6 : 6; 8 : 17 ), dan orang lainnya seperti Paulus (Kis 28 : 8) penatua Timoteus (1 Tim 4 : 14) dan orang - orang Kristen biasa (Mk 16 : 18; Kis 9 : 12, 17). Jadi, penumpangan tanga tidak terbatas hanya kelompok Yesus dan 12 rasul. Orang - Orang kristen biasa juga mempraktekkannya.

Menurut ajaran Gereja, dalam liturgi Sakramental (7 Sakramen) hanya kaum tertahbis saja (Uskup, Imam) yang boleh menumpangkan tangan, sesuai dengan rupliknya. Tetapi, dalam upacara non - sakramental, tak hanya kaum tertahbis, tetapi awam juga boleh menumpangkan tangan. Sebab, Sakramentali (doa berkat) boleh juga dilayani oleh awam (Sacrosanctum Concilium, art. 79, Kitab Hukum Kanonik, kan 1168).

Didalam  buku Liturgi Orang Sakit (thn. 1980), disebutkan pemimpin doa (awam) boleh mengulurkan tangannya ke atas si sakit. Dan di dalam buku Ibadat Berkat (thn. 1987), disebutkan petugas awam boleh mengulurkan tangan diatas atau ke arah orang atau barang yang dimohonkan berkat.

Penumpangan tangan di dalam doa pencurahan Roh merupakan tanda memohon berkat Allah dan sekaligus sebagai ungkapan cinta persaudaraan antara yang mendoakan  dengan yang didoakan.

Penumpangan tangan ini bukanlah transfer Roh Kudus, kuasa atau energi dari yang mendoakan kepada yang didoakan, seakan - akan kalau orang yang didoakan tumbang (Jatuh ke lantai) maka nyatalah kuasa Roh Kudus itu berkarya. Para Uskup Indonesia, tampaknya tidak berkeberatan jika awam menumpangkan tangan ke dalam doa pencurahan Roh, sejauh, penumpangan tangan itu dimengerti sebagai tanda doa mohon berkat Allah dan kasih kepada sesama (lihat: KWI, Aneka Karunia, Satu Roh, Jakarta : 1993, no. 14; KWI, Pembahuruan Hidup Kristiani Sebagai Karisma Roh. Jakarta; 1995, no. 31).

Beberapa saran Pastoral

Penumpangan tangan umumnya dilakukan dengan meletakkan tangan ke atas kepala orang yang sedang  didoakan, namun, ada juga orang yang tidak setuju, karena bertentangan dengan budaya tertentu. Jika ada penolakan atau dipandang tidak pantas menyentuh kepala seseorang, sebagai alternatif doa dapat dilakukan dengan meletakkan tangan pada bahu saja, yang tentunya dilakukan dengan hormat dan sopan. Ada kalanya, doa diiringin dengan meletakkan tangan di atas bagian tubuh yang sakit. Jika ini dilakukan, haruslah diperhatikan kesopanan, misalnya pria dengan pria, wanita dengan wanita, dan bagian tubuh mana saja yang boleh dipegang. Ini penting diperhatikan untuk menghindari pembicaraan yang tidak baik atau sandungan dalam pelayanan doa. Tak ada salahnya juga, bila perlu, doa dilakukan tanpa memegang bagian tubuh manapun.

Di dalam doa - doa non - liturgi, penumpangan tangan sebenarnya bukanlah unsur esensial.

Karena itu kita dapat berdoa dengan atau tanpa penumpangan tangan, Roh Kudus dapat tercurah ke atas seseorang tanpa lewat penumpangan tangan ( Kis 2 : 4; 4 : 31). Maka jika di tempat tertentu ada penolakan sebagian besar umat bila penumpangan tangan dilakukan oleh awam dan akan menimbulkan kebingungan dan perpecahan di dalam Gereja, sebaiknya praktik itu tidak dilakukan. Untuk sementara imam saja yang melakukannya, sampai umat setempat dapat menerimanya.

Jika penumpangan tangan oleh awam dipraktikkan di dalam doa pencurahan Roh, hendaklah diperhatikan lima hal berikut ini:

Pertama: Penumpangan tangan berarti tanda memohon berkat dari Allah, bukan tranfer kuasa Roh Kudus, kekuatan atau energi dari orang yang menumpangkan tangan kepada orang yang ditumpangi;

Kedua: Allah sendirilah yang memberikan karunia Roh Kudus, bukan orang yang menumpangkan tangannya; manusia hanyalah alat atau instrumen Allah saja.

Ketiga; hendaklah si pendoa tidak menumpangkan tangan kuat – kuat ke atas kepala orang yang sedang didoakan atau mendorong kepalanya dengan maksud agar orang yang didoakan itu jatuh ke lantai sebagai tanda kuasanya berjalan.

Keempat;
kita semua harus menghindarai hal - hal yang bersifat sensasional, artifisial, teatrikal dan mencari popularitas diri sendiri.

Kelima; Karisma si pendoa harus dilaksanakan demi kepentngan seluruh umat Allah dan bukan demi kepentingan diri sendiri (1 Kor 12 : 7; Lumen Gentium, art. 12). Sedangkan bagi orang yang didoakan, sangatlah perlu menghindari kesalahan serius dengan memfokuskan perhatian pada orang yang mendoakan, sekalipun orang itu memiliki karisma. Perhatian hendaknya pada Allah saja, sumber segala berkat.

Akhirnya, dari pengamatan kami, cukup banyak orang dimasyarakat dan Gereja kita mengartikan penumpangan tangan sebagai tranfer kuasa, kekuatan atau energi. Artinya ini bukanlah yang dimaksudkan Gereja. Karena itu, sebaiknya pimpinan umat menjelaskan lebih dahulu kepada umat arti penumpangan tangan menurut ajaran Gereja, yaitu sebagai ungkapan doa memohon berkat dari Allah dan sebagai tanda kasih kepada sesama, dan bukan sebagai tranfer power.

Oleh; Dr. Alex l. Suwandi Pr
Penulis adalah seorang imam di Keuskupan Padang, anggota pengurus Badan pelayanan Nasional Pembaharuan Karismatik Katolik Indonesia.

Redaksi majalah HIDUP membuka kesempatan seluas - luasnya kepada pembaca untuk mengajukan pertanyaan atau topik yang dikehendaki untuk dijawab atau dijelaskan Romo Handoko dalam rublik ini. Kirim SMS Anda : KETIK KOIM : ke nomor 0813 - 18544200 atau kirim melalui pos ke Redaksi HIDUP Jl. Kebon Jeruk Raya 85 Batusari, Jakarta 11530, Fax. 021 5485737 atau e-mail hidup@indo.net.id

Sumber: Majalah HIDUP.
dipublikasikan oleh: Kloter 2000

Praktik Penumpangan Tangan

Berlangganan Tulisan Terbaru dari Kloter 2000 by Email. Gratis !!! Klik Disini
bisnis paling gratis

Di dalam Pembaharuan Karismatik Katolik, ada praktik penumpangan tangan yang biasanya dilakukan di dalam doa pencurahan Roh, doa berkat dan doa untuk orang sakit. Praktik ini  menimbulkan pro dan kontra diantara para imam dan umat beriman awam. Tampaknya, jika imam yang menumpangkan tangan tidak ada yang keberatan. Tetapi, jika awam yang melakukannya, timbul perbedaan pendapat: boleh atau tidak? Sebetulnya, menurut ajaran Gereja, apakah arti penumpangan tangan? Tulisan ini mencoba memberikan sekilas pandangan biblis, teologi dan pastoral tentang praktik penumpangan tangan.

Dalam Kitab suci.
Di dalam Kitab Suci, kita menemukan praktik penumpangan tangan, entah atas seseorang  atau suatu kurban. Namun, tidaklah banyak  kutipan yang memuat praktik itu dan artinyapun beragam. Di dalam Perjanjian lama, penumpangan  tangan berarti: sebagai tanda kesatuan antara mohon berkat Tuhan ( Kej 48; 14 - 16; Bil 8 : 1 - 10); sebagai tanda kesatuan antara orang yang mendoakan dengan yang didoakan ( Bil 27; 18,20; Ul 34:9 ); dan sebagai tanda identifikai  orang tertuduh ( Im 24 : 10 - 14; Dan 13 : 34 ) atau kurban kudus ( Im 1 : 2 - 4; 3 : 1 - 2; 16 : 17 - 22 ). Penumpangan tangan sebagai tanda  penyembuhan tidak diketemukan di dalam  Perjanjian Lama. Di dalam Perjanjian Baru, penumpangan tangan berarti: sebagai tanda  mohon berkat ( Mk : 14 - 16 ), sebagai tanda penyembuhan oleh Yesus 9 luk 4 : 40; Mrk 6 : 5; 7 : 32 - 36; 8 : 22 - 26 ) dan para murid-Nya ( Mrk 16 : 18; Kis 9 : 10 - 19; 28 : 8 ) dan sebagai tanda kesatuan antara orang yang mendoakan dengan yang didoakan ( Kis 6 : 6; 1 Tim 4 : 14; 2 Tim 1 : 6). Penumpangan tangan sebagai tanda identifikasi tidak  ditemukan di dalam Perjanjian Baru. Dalam tradisi  Gereja selanjutnya, penumpangan tangan mengerucut terutama menjadi tanda mohon berkat Allah.

Tradisi Gereja
Di dalam dokumen Gereja pada abad III, Tradisi Apostolik, Hippolytus dari Roma (Thn. 215) menuliskan penumpangan tangan dilakukan di dalam perayaan sakramen - sakramen: dalam perayaan tahbisan uskup, imam, diakon, dalam perayaan Ekaristi, selama masa katekumenat dan di dalam upacara pembaptisan. Tidak ada petunjuk adanya penumpangan tangan ke atas sakramen orang sakit, Tidaklah mengherankan kita,  sebab tidak ada ritus pengurapan di dalam dokumen itu. Yang ada hanyalah doa berkat atas minyak untuk orang sakit. Memang tidak ada ritus pengurapan sebelum pembaharuan liturgi oleh Karel Agung pada abad VIII.

Didalam Gereja purba, penumpangan tangan dipakai di dalam banyak ritus Gereja. Dan penumpangan tangan adalah sikap doa yang biasa pada waktu itu. Umumnya istilah “mendoakan” diartikan sama dengan “menumpangkan tangan”, karena di dalam Perjanjian Baru, ada contoh di mana ketika seseorang berdoa, doa itu diucapkan dengan menumpangkan tangan  (Mat 18 : 13; Kis 8 : 17).

Ada beberapa kesaksian kuno tentang praktik penumpangan tangan. St Irenius (Thn. 140 - 202), Misalnya, menceritakan kepada kita tentang orang -orang Kristen biasa yang menyembuhkan orang - orang sakit dengan menumpangkan tangan mereka. St. Klements dari Alexandria (wafat thn. 215) juga memberitahukan adanya praktik penumpangan tangan orang - orang Kristen biasa. St. Ambrosius (thn 334 - 397), mengomentari Mrk 16 : 17 - 18, menuliskan penumpangan tangan dipraktikkan karena memiliki efek kuratif yang datang dari rahmat Allah. Lalu, Posidius dalam menceritakan kisah hidup St. Agustinus (thn. 354 - 430), menyampaikan bahwa mengikuti teladan para rasul, Agustinus yang waktu itu menjabat Uskup Hippo, mengunjungi orang - orang sakit untuk berdoa bagi mereka serta menumpangkan tangannya ke atas mereka.

Dewasa ini praktik penumpangan tangan kita jumpai di dalam ke - 7 Sakramen : Baptis, Krisma, Ekaristi, Tobat, Pengurapan orang sakit, Tahbisan dan perkawinan. Selain itu penumpangan tangan dilakukan juga di dalam sakramentali dan doa berkat. Sebetulnya ada beberapa tanda yang mengiringi sakramentali, yaitu tanda salib di dahi, penumpangan tangan dan pemercikan air suci. Namun, penumpangan tangan adalah tanda yang paling sering dipakai.

Menurut para ahli liturgi, penumpangan tangan selalu diartikan menurut doa yang yang mengikutinya, didalam liturgi Sakramen, penumpangan tangan mempunyai dua arti, yaitu pertama, sebagai epiclesis, tanda doa memohon berkat Allah; kedua, tanda kesatuan antara orang yang mendoakan dengan yang didoakan. Arti pertama merupakan interpretasi lebih umum, karena tidak ada upacara liturgi di mana penumpangan tangan tidak berarti doa memohon berkat Allah. Arti kedua tampak khususnya di dalam Sakramen Tahbisan dan Sakramen Tobat. Sedangkan di dalam doa pencurahan Roh, doa mohon berkat dan doa untuk orang sakit, selain sebagai tanda memohon berkat dari Allah.

*Redaksi majalah HIDUP membuka kesempatan seluas - luasnya kepada pembaca untuk mengajukan pertanyaan atau topik yang dikehendaki untuk dijawab atau dijelaskan Romo Handoko dalam rublik ini. Kirim SMS Anda : KETIK KOIM :  ke nomor 0813 - 18544200 atau kirim melalui pos ke Redaksi HIDUP Jl. Kebon Jeruk Raya 85 Batusari, Jakarta 11530, Fax. 021 5485737 atau e-mail hidup@indo.net.id

Sumber: Majalah HIDUP.
dipublikasikan oleh: Kloter 2000

Paskah

Berlangganan Tulisan Terbaru dari Kloter 2000 by Email. Gratis !!! Klik Disini
Monday, March 7, 2011
bisnis paling gratis

Paskah (bahasa Yunani: Πάσχα atau Paskha) adalah perayaan terpenting dalam tahun liturgi gerejawi Kristen. Bagi umat Kristen, Paskah identik dengan Yesus, yang oleh Paulus disebut sebagai "anak domba Paskah"; jemaat Kristen hingga saat ini percaya bahwa Yesus disalibkan, mati dan dikuburkan, dan pada hari yang ketiga bangkit dari antara orang mati. Paskah merayakan hari kebangkitan tersebut dan merupakan perayaan yang terpenting karena memperingati peristiwa yang paling sakral dalam hidup Yesus.

Paskah juga merujuk pada masa di dalam kalender gereja yang disebut masa Paskah, yaitu masa yang dirayakan dulu selama empat puluh hari sejak Minggu Paskah (puncak dari Pekan Suci) hingga hari Kenaikan Yesus namun sekarang masa tersebut diperpanjang hingga lima puluh hari, yaitu sampai dengan hari Pentakosta (yang artinya "hari kelima puluh" - hari ke-50 setelah Paskah, terjadi peristiwa turunnya Roh Kudus). Minggu pertama di dalam masa Paskah dinamakan Oktaf Paskah oleh Gereja Katolik Roma. Hari Paskah juga mengakhiri perayaan Pra-Paskah yang dimulai sejak empat puluh hari sebelum Kamis Putih, yaitu masa-masa berdoa, penyesalan, dan persiapan berkabung.

Paskah merupakan salah satu hari raya yang berubah-ubah tanggalnya (dalam kekristenan disebut dengan perayaan yang berpindah) karena disesuaikan dengan hari tertentu (dalam hal ini hari Minggu), bukan tanggal tertentu di dalam kalender sipil. Hari raya-hari raya Kristen lainnya tanggalnya disesuaikan dengan hari Paskah tersebut dengan menggunakan sebuah formula kompleks. Paskah biasanya dirayakan antara akhir bulan Maret hingga akhir bulan April (ritus Barat) atau awal bulan April hingga awal bulan Mei (ritus Timur) setiap tahunnya, tergantung kepada siklus bulan. Setelah ratusan tahun gereja-gereja tidak mencapai suatu kesepakatan, saat ini semua gereja telah menerima perhitungan Gereja Aleksandria (sekarang disebut Gereja Koptik) yang menentukan bahwa hari Paskah jatuh pada hari Minggu pertama setelah Bulan Purnama Paskah, yaitu bulan purnama pertama yang hari keempat belasnya ("bulan purnama" gerejawi) jatuh pada atau setelah 21 Maret (titik Musim Semi Matahari/vernal equinox gerejawi)

Minggu Paskah bukan perayaan yang sama (namun masih berhubungan) dengan Paskah Yahudi (bahasa Ibrani: פסח atau dalam hal simbolisme dan juga penanggalannya. Bahasa Indonesia tidak memiliki istilah yang berbeda untuk Paskah Pesakh (Yahudi) dan Paskah Paskha (Kristen) sebagaimana beberapa bahasa Eropa yang mempunyai dua istilah yang berbeda, oleh sebab itu kata Paskah dapat memiliki dua arti yang berbeda di dalam bahasa Indonesia.

Banyak elemen budaya, termasuk kelinci Paskah dan telur Paskah, telah menjadi bagian dari perayaan Paskah modern, dan elemen-elemen tersebut biasa dirayakan oleh umat Kristen maupun non-Kristen.

Sumber : Wikipedia 

Makna Kamis Putih Dalam Gereja Katolik

Berlangganan Tulisan Terbaru dari Kloter 2000 by Email. Gratis !!! Klik Disini
Sunday, March 6, 2011
bisnis paling gratis

Dalam Kamis Putih kita diajak untuk merenungkan makna perjamuan malam terakhir yang diadakan oleh Yesus bersama para rasul.

Menurut tradisi Yahudi mencuci kaki adalah sebuah bentuk penghormatan seseorang terhadap orang yang dianggap mempunyai status atau jabatan lebih tinggi atau lebih terhormat. Murid membasuh kaki gurunya sebab menganggap guru mempunyai status yang lebih terhormat daripadanya.

Pada malam Kamis Putih Yesus mencuci kaki para murid. Jelas ini melawan adat, maka ditolak oleh Petrus. Dia yang adalah murid merasa tidak pantas dihormati gurunya sedemikian rupa. Tapi Yesus tidak mundur dengan penolakan Petrus, bahkan Dia mengancam kalau Petrus tidak mau maka dia tidak akan masuk dalam bagian komunitasnya. Aku yakin bahwa yang gelisah dan menolak bukan hanya Petrus melainkan semua murid dan mungkin juga Yudas. Apakah Yesus hanya mau mencari sensasi saja?

Yesus melakukan sebuah perbuatan pasti ada tujuannya. Tindakan mencuci kaki merupakan salah satu bentuk pengajaran bagi para murid. Ini adalah keteladanan mengenai penghormatan. Pada umumnya orang hanya menghormati orang yang dianggap mempunyai status atau kasta yang sederajat atau yang lebih tinggi. Penghormatan hanya berjalan dari bawah ke atas. Yesus sejak awal berusaha membuat sebuah hukum baru, yang berbeda dengan aturan yang berlaku pada umumnya di dunia ini. Dalam Kotbah di Bukit dengan jelas Yesus hendak membangun suatu komunitas yang berbeda dengan masyarakat yang sudah ada. Hal ini bukan sifat Yesus yang aneh-aneh melainkan Dia berusaha membangun sebuah komunitas sempurna.

Dunia mengajarkan penghormatan adalah hak orang yang lebih tinggi martabatnya. Orang yang mempunyai jabatan, kekayaan atau kekuasaan. Orang miskin dan marginal hanya wajib menghormati namun dia tidak mendapat penghormatan. Rakyat wajib menghormati presiden sebaliknya presiden tidak mempunyai kewajiban menghormati rakyatnya. Anak wajib menghormati orang tuanya, sebaliknya orang tua tidak mempunyai kewajiban yang sama. Bahkan tidak jarang orang yang dianggap punya kekuasaan tinggi, jabatan tinggi dan sebagainya dapat sewenang-wenang menindas orang yang dianggap lebih rendah. Penghormatan berlaku dari bawahan pada atasan.

Yesus membalik aturan dunia ini. Dia mengajarkan penghormatan dari atasan pada bawahan. Dari guru pada murid. Dari penguasa pada orang yang tidak berkuasa, dari orang terhormat pada para kaum proletar. Ini adalah pukulan penyadaran bagi para murid. Beberapa kali mereka memperdebatkan siapa yang terbesar diantara mereka, sebab dengan merasa terbesar mereka berhak mendapatkan penghormatan dari yang lainnya. Ini adalah suatu bentuk ketidakadilan dimana orang hanya menuntut penghormatan sebaliknya dia tidak mau menghormati sesamanya.

Semua manusia adalah citra Allah. Bermartabat sama. Namun tata dunia membuat aneka pembedaan. Dunia mengelompokan manusia dalam bermacam tingkatan. Pembagian ini berdasarkan kelahiran, jabatan, kekayaan dan sebagainya. Ada orang yang terlahir sebagai bangsawan, maka dia secara otomatis menempati sebuah posisi tertentu. Dia menjadi lebih unggul dibandingkan dengan orang lain. Pada jaman dulu budaya Jawa sangat ketat mempertahankan kebangsawanan.

Orang yang terlahir sebagai bangsawan tidak boleh bergaul dengan orang yang bukan bangsawan atau bangsawan yang lebih rendah. Apalagi mereka menikah dan sebagainya. Kisah kasih Pronocitro dan Roro Jogran mencerminkan adanya batasan itu. Dalam budaya Cina juga ada kisah Sam Pek dan Ing Tay yang mencerminkan hal yang sama. Namun sekarang gelar kebangsawanan tidak lagi mendampatkan penghormatan, maka orang berusaha mencari aneka gelar akademik, kekayaan dan jabatan untuk memperoleh penghormatan.

Orang sangat bangga bila di depan atau belakang namanya ada aneka gelar akademik atau aneka jabatan. Semua gelar ditulis rapi agar orang yang tidak punya gelar menghormatinya. Tata nilai dunia ini tidak adil, sebab kapankah Mbok Jah yang hanya berjualan sayuran eceran atau Laksmi yang hanya seorang pekerja seks kelas teri di stasiun atau Asep yang hanya anak jalanan akan dihormati oleh orang lain yang bergelar profesor, berjabatan sekwilda dan sebagainya? Mereka hanya akan diperlakukan sewenang-wenang, tidak dianggap manusia, padahal martabat Asep sama dengan Pak Banu yang berpangkat jendral. Keduanya adalah citra Allah.

Suatu hari aku dan teman-teman dari rumah singgah diundang seseorang yang berulang tahun di sebuah rumah makan mewah. Ketika kami datang, maka orang itu langsung mempersilahkan aku duduk di tempat yang sudah disediakan, sedangkan teman-temanku yang lain tidak dipedulikan. Hal ini terjadi karena aku adalah seorang imam dan teman-temanku adalah anak jalanan. Padahal martabatku sama dengan mereka. Inilah nilai dunia yang hendak diubah oleh Yesus.

Penghormatan kepada kaum bawahan hanya bisa dilakukan bila orang yang dianggap atasan berani melepaskan atribut pemberian duniawi yang menempel di dirinya. Yesus melepaskan jubahnya yang melambangkan statusNya sebagai guru. Dia mengambil posisi hamba. Ini adalah salah satu bentuk pengosongan diri. Yesus sadar bahwa Dia adalah Guru namun berani melepaskan lambang-lambang keguruan. Keguruan Yesus bukan terletak pada lambang jubah melainkan kewibawaannya dalam mengajar, teguh dalam prinsip, kearifan, kebijaksanaan, belas kasih dan sebagainya. Dengan demikian keguruan Yesus bukan dari apa yang ditempelkan oleh masyarakat melainkan apa yang ada dalam diriNya.

Maka dalam Kamis Putih kita diingatkan kembali akan semuanya itu oleh Yesus yang dengan tegas mengatakan bahwa Dia adalah Guru dan Tuhan mau melakukan pembasuhan kaki para murid.

Dari semuanya yang terpenting bagi kita sekarang adalah belajar "jangan membandingkan"

Selamat Paskah

Ketentuan Puasa Pantang Gereja Katolik

Berlangganan Tulisan Terbaru dari Kloter 2000 by Email. Gratis !!! Klik Disini
bisnis paling gratis

Ketentuan Puasa dan Pantang Tahun 2011 Keuskupan Agung Palembang
No. 060 / Dio -4/ 11 / 2011.


Berikut ini adalah ketentuan - ketentuan tentang Pantang dan Puasa selama masa Prapaskah tahun 2011

Pertama:
Masa Prapaskah adalah masa penuh rahmat; kesempatan untuk memperbaharui hidup sebagai umat beriman dengan bertobat. Setiap umat beriman hendaknya memanfaatkan waktu untuk mengembangkan hidup rohaninya dengan rajin berdoa (bersama ditengah keluarga maupun seara pribadi ditengah kesibukan kerjanya). Pertemuan kring / lingkungan atau wilayah, retret dan rekoleksi menjadi kesempatan kebersamaan sebagai umat dalam memperbaharui hidup. Menerima sakramen tobat dan rajin menghadiri perayaan Ekaristi, merenungkan jalan salib Kristus, menjalani pantang bermati raga, dan berpuasa merupakan sarana khusus pada masa Prapaskah ini  untuk semakin mengalami penyelamatan kristus yang menderita wafat dan bangkit bagi dunia.

Kedua:
Agar suasana Prapaskah ini sungguh terjamin hendaknya dihindari pesta meriah yang kurang sesuai dengan semangat pantang dan puasa.

Ketiga:
Dalam masa Prapaskah ini, Hari Puasa dilaksanakan pada hari Rabu Abu (09 Maret 2011), dan hari Jum'at Agung (22 April 2011). Hari Pantang dilangsungkan pada hari Rabu Abu dan 7 (Tujuh) hari Jum'at selama masa Prapaskah.

Ke-empat:
Yang wajib berpuasa adalah semua orang Katolik yang berumur delapan belas tahun sampai dengan awal tahun enam puluh. Sedangkan yang wajib berpantang adalah semua orang Katolik yang berumur enam belas tahun ke atas. Maka kewajiban keluargalah untuk mendorong putra putri remaja menjalankan pantang tersebut agar mereka dapat berkembang  kuat dalam iman dan pribadinya

Kelima:
Yang dimaksud dengan PUASA, dalam arti yuridis (hukum) adalah : Orang hanya diperbolehkan makan kenyang satu kali dalam satu hari. sedangkan yang dimaksud dengan PANTANG secara yuridis adalah memilih makanan tertentu. Tidak hanya memakan daging, garam, tidak merokok, tidak jajan. Keluarga dalam kebersamaan dapat menentukan  bersama apa yang paling bermakna untuk perkembangan iman dan kasih keluarga secara keseluruhan.

Keenam;
Menghayati pantang dan puasa: Menjalani pantang dan puasa merupakan ungkapan persatuan kita dengan sengsara dan wafat Kristus yang telah membawa keselamatan bagi kita, serta rasa sepenanggungan dengan mereka yang menderita di sekitar kita. Pantang dan puasa mengungkapkan pertobatan batin. Maka pantang menjadi sarana untuk mengendalikan hawa nafsu serta melatih diri untuk ugahari dan Bijaksana.

Mengendalikan hawa nafsu:
Mengendalikan diri dari hawa nafsu tak terkendali atas minuman keras, narkoba, dan rokok. Berhemat untuk beramal bagi banyak orang yang menderita, memperbaiki hubungan dengan sesama terutama dengan membina hati penuh pengampunan dan belas kasih. tidak melampiaskan nafsu melalui tindak negatif ( nafsu seks tidak terkendali) merusak dan menghancurkan nama baik atau milik sesama.

Bijaksana:
Pada masa Prapaskah ini kita harus menyederhanakan gaya hidup dengan tidak menunjukkan kemewahan, dan menumbuhkan semangat berkorban melalui pelayanan atau pekerjaan agar Tuhan dimuliakan.

Ketujuh:
Ungkapan tobat menjadi gerakan bersama melalui APP (Aksi Puasa Pembangunan) yang menjadi tanda pernyataan tobat seara lokal maupun nasional dari Gereja Katolik, dan APP hendaknya dihayati sebagai kelanjutan ungkapan belas kasih Allah bagi manusia yang kekurangan.

Kedelapan:
perbuatan "Amal" merupakan bagian penting pada masa Prapaskah ini. Kita sebagai manusia sudah mendapatkan banyak dari Allah, maka beramal menjadi ungkapan terima kasih kepada Allah yang memberikan perhatian kepada saudara - saudari yang miskin dan menderita. Putra - putri kita sejak kercil harus dilatih beramal kasih. Sekolah - sekolah kita dan keluarga - keluarga harus membantu anak - anak belajar mempunyai hati yang murah bagi sesama. Semua diwajibkan beramal, juga kita yang masih miskin. Anda yang miskin-pun dapat memberi dari kekurangan Anda seperti janda miskin yang dipuji oleh Yesus. Maka semangat Injil harus menjadi kekuatan yang nampak ditengah hidup gereja, khususnya di masa puasa ini.


Sumber Warta Umat gereja Hati Kudus Palembang
Tanggal 05 / 06 Maret 2011

7 Sakramen Dalam Gereja Katolik

Berlangganan Tulisan Terbaru dari Kloter 2000 by Email. Gratis !!! Klik Disini
Thursday, March 3, 2011
bisnis paling gratis



- Sakramen Baptis 
- Sakramen Ekaristi
- Sakramen Imamat
- Sakramen Perkawinan

Penampakan Bunda Maria Di Fatimah

Berlangganan Tulisan Terbaru dari Kloter 2000 by Email. Gratis !!! Klik Disini
Wednesday, March 2, 2011
bisnis paling gratis

"Setiap orang, mulai dari dirinya sendiri, harus berdoa rosario dengan lebih khidmat .....dan benar-benar mempraktekkan yang kuanjurkan yaitu devosi Sabtu Pertama setiap bulan."

Pesan Bunda Maria Fatima kepada Lucia 1 Mei 1987

Fatima adalah sebuah kota kecil sebelah utara kota Lisbon di Portugal. Pada tahun 1917 Bunda Maria menampakkan diri di Fatima kepada tiga orang anak gembala. Mereka adalah Lucia dos Santos berumur 10 tahun, sepupunya bernama Fransisco Marto berumur 9 tahun dan Jacinta Marto berumur 7 tahun.

Penampakan Maria didahului tiga penampakan Malaikat setahun sebelumnya yang mempersiapkan anak-anak ini untuk penampakan Bunda Maria. Malaikat mengajarkan kepada anak-anak, dua doa penyilihan yang harus didoakan dengan hormat yang besar. Pada penampakan terakhir di musim gugur 1916, Malaikat memegang sebuah piala. Ke dalam piala ini meneteslah darah dari sebuah Hosti yang tergantung di atasnya. Malaikat memberi ketiga anak itu Hosti sebagai Komuni Pertama mereka dari piala itu. Anak-anak tidak menceritakan penampakan ini kepada orang lain. Mereka melewatkan waktu yang lama dalam doa dan keheningan.

13 Mei 1917 Pesta Bunda Maria dan Sakramen Mahakudus. Ketiga anak itu sedang menggembalakan ternaknya di Cova da Iria, sebuah padang alam yang amat luas, kira-kira satu mil dari desa mereka. Tiba-tiba mereka melihat sebuah kilatan cahaya dan setelah kilatan yang kedua, muncul seorang wanita yang amat cantik. Pakaiannya putih berkilauan. Wanita yang bersinar bagaikan matahari itu berdiri di atas sebuah pohon oak kecil dan menyapa anak-anak:

"Janganlah takut, aku tidak akan menyusahkan kalian. Aku datang dari surga. Allah mengutus aku kepada kalian. Bersediakah kalian membawa setiap korban dan derita yang akan dikirim Allah kepada kalian sebagai silih atas banyak dosa -sebab besarlah penghinaan terhadap yang Mahakuasa- bagi pertobatan orang berdosa dan bagi pemulihan atas hujatan serta segala penghinaan lain yang dilontarkan kepada Hati Maria yang Tak Bernoda?"

"Ya, kami mau," jawab Lucia mewakili ketiganya. Dalam setiap penampakan, hanya Lucia saja yang berbicara kepada Bunda Maria. Jacinta dapat melihat dan mendengarnya, tetapi Fransisco hanya dapat melihatnya saja.

Wanita itu juga meminta anak-anak untuk datang ke Cova setiap tanggal 13 selama 6 bulan berturut-turut dan berdoa rosario setiap hari.

13 Juni 1917 ketiga anak itu pergi ke Cova. Pada kesempatan itu Bunda Maria mengatakan bahwa ia akan segera membawa Jacinta dan Fransisco ke surga. Sedangkan Lucia diminta tetap tinggal untuk memulai devosi kepada Hati Maria Yang Tak Bernoda. Ketika mengucapkan kata-kata ini, muncullah dari kedua tangan Maria sebuah cahaya. Di telapak tangan kanannya nampak sebuah hati yang dilingkari duri, Hati Maria Yang Tak Bernoda yang terhina oleh dosa manusia.

"Yesus ingin agar dunia memberikan penghormatan kepada Hatiku yang Tak Bernoda. Siapa yang mempraktekkannya, kujanjikan keselamatan. Jiwa-jiwa ini lebih disukai Tuhan, dan sebagai bunga-bunga akan kubawa ke hadapan takhta-Nya."

"Janganlah padam keberanianmu. Aku tidak akan membiarkan kalian. Hatiku yang Tak Bernoda ini akan menjadi perlindungan dalam perjalananmu menuju Tuhan."

13 Juli 1917 "Berkurbanlah untuk orang berdosa. Tetapi teristimewa bila kalian membawa suatu persembahan, ucapkanlah seringkali doa ini: Ya Yesus, aku mempersembahkannya karena cintaku kepada-Mu dan bagi pertobatan orang-orang berdosa serta bagi pemulihan atas segala penghinaan yang diderita Hati Maria yang Tak Bernoda."

Kemudian Bunda Maria memperlihatkan neraka yang sangat mengerikan. Begitu ngeri sampai anak-anak itu gemetar ketakutan.

"Bila kelak, pada suatu malam kalian melihat suatu terang yang tak dikenal, ketahuilah bahwa itu adalah 'Tanda' dari Tuhan untuk menghukum dunia, karena banyaklah kejahatan yang telah kalian lakukan. Akan terjadi peperangan, kelaparan dan penganiayaan terhadap Gereja dan Bapa Suci."

"Untuk menghindari hal itu, aku mohon, persembahkanlah negara Rusia kepada Hatiku yang Tak Bernoda serta komuni pemulihan pada Sabtu pertama setiap bulan."

"Bila kalian berdoa Rosario, ucapkanlah pada akhir setiap peristiwa: Ya Yesus yang baik, ampunilah segala dosa kami, lindungilah kami dari api neraka, hantarkanlah jiwa-jiwa ke dalam surga, terlebih jiwa yang sangat memerlukan pertolongan-Mu."

13 Agustus 1917 anak-anak tidak bisa datang ke Cova karena mereka semua digiring ke pengadilan oleh penguasa daerah setempat. Mereka diancam akan dimasukkan ke dalam minyak panas. Anak-anak dijebloskan ke dalam penjara selama 2 hari. Pada tanggal 19 Agustus Bunda Maria menampakkan diri pada saat anak-anak sedang menggembalakan ternak mereka di Valinhos.

"Berdoalah, berdoalah dan bawalah banyak korban bagi orang berdosa. Sebab betapa banyak yang masuk api neraka karena tidak ada yang berdoa dan berkorban bagi mereka."

13 September 1917 Bunda Maria mendesak lagi tentang betapa pentingnya doa dan kurban. Ia juga berjanji akan datang bersama St. Yusuf dan Kanak-kanak Yesus pada bulan Oktober nanti.

"Dalam bulan Oktober aku akan membuat suatu tanda heran, agar semua orang percaya."

13 Oktober 1917 Bersama anak-anak, sekitar 70.000 orang datang ke Cova untuk menyaksikan mukjizat yang dijanjikan Bunda Maria. Pagi itu hujan deras turun seperti dicurahkan dari langit. Ladang-ladang tergenang air dan semua orang basah kuyub. Menjelang siang, Lucia berteriak agar orang banyak menutup payung-payung mereka karena Bunda Maria datang.

Lucia mengulangi pertanyaannya pada penampakan terakhir ini, "Siapakah engkau dan apakah yang kaukehendaki daripadaku?" Bunda Maria menjawab bahwa dialah Ratu Rosario dan ia ingin agar di tempat tersebut didirikan sebuah kapel untuk menghormatinya. Ia berpesan lagi untuk keenam kalinya bahwa orang harus mulai berdoa Rosario setiap hari.

"Manusia harus memperbaiki kelakuannya serta memohon ampun atas dosa-dosanya."

Kemudian dengan wajah yang amat sedih Bunda Maria berbicara dengan suara yang mengiba:

"MEREKA TIDAK BOLEH LAGI MENGHINA TUHAN YANG SUDAH BEGITU BANYAK KALI DIHINAKAN."

Bunda Maria kemudian pergi ke pohon oak sebagai tanda penampakan berakhir. Awan hitam yang tadinya bagaikan gorden hitam menyingkir ke samping memberi jalan matahari untuk bersinar. Kemudian matahari mulai berputar, gemerlapan berwarna-warni, berhenti sejenak dan mulai berputar-putar menuju bumi. Orang banyak jatuh berlutut dan memohon ampun. Sementara fenomena matahari terjadi, ketiga anak melihat suatu tablo Keluarga Kudus di langit. Di sebelah kanan tampak Ratu Rosario. Di sebelah kirinya St. Yosef menggandeng tangan Kanak-kanak Yesus dan membuat tanda salib tiga kali bagi umatnya. Menyusul visiun yang hanya tampak oleh Lucia seorang diri: Bunda Dukacita bersama Tuhan berdiri di sampingnya dan Bunda Maria dari Gunung Karmel dengan Kanak-kanak Yesus di pangkuannya. Matahari meluncur seolah-olah akan menimpa orang banyak, tiba-tiba ia berhenti dan naik kembali ke tempatnya semula di langit. 70,000 orang yang berkerumun di Cova itu menyadari bahwa pakaian mereka yang tadinya basah kuyub oleh hujan lebat, tiba-tiba menjadi kering. Demikian pula tanah yang tadinya becek dan berlumpur akibat hujan tiba-tiba menjadi kering. Mukjizat matahari selama 15 menit itu disaksikan bukan hanya oleh orang-orang di Cova da Iria saja, tetapi juga oleh banyak orang di sekitar wilayah itu sampai sejauh 30 mil.

Selain penampakan di Fatimah, Bunda Maria juga menampakan diri di Lourdes

sumber : 1. Maria dari Fatima, Rm Petrus Pavlicek OFM - Wina; 2. AVE MARIA No. 10 September 1997; diterbitkan oleh Marian Centre Indonesia.
Diperkenankan mengutip / menyebarluaskan artikel di atas dengan mencantumkan: “disarikan oleh YESAYA: www.indocell.net/yesaya”

Devosi Katolik - Doa Santo Benedictus

Berlangganan Tulisan Terbaru dari Kloter 2000 by Email. Gratis !!! Klik Disini
bisnis paling gratis

Devosi Katolik - Lembaran Doa Santo Benedictus.

Kategori : Lembaran Doa
Harga Rp. 3.000
Bahan : Glosy 250 Gr.
Ukuran: 23,5 X 16 Cm
Minimal Order: 100 Lembar
Harga Sudah termasuk Ongkos Kirim
Hubungi 0711 - 9222215


Baca juga sejarah perjalanan hidup Santo Benediktus.

Pesta Yesus Dipersembahkan ke Kenisah (2 Februari 2011)

Berlangganan Tulisan Terbaru dari Kloter 2000 by Email. Gratis !!! Klik Disini
Tuesday, February 1, 2011
bisnis paling gratis

Kategori Renungan Harian Katolik : 2 Februari 2011
Bacaan I             : Maleakhi 3:1-4
Bacaan Injil         : Lukas 2:22-32

Saudara-saudari yang baik,
Hari ini adalah Pesta Yesus Dipersembahkan di Kenisah. Bacaan Injil hari ini dari Lukas 2:22-32. Dalam kisah ini, pokok utama adalah kisah Simeon dan Hana yang menyambut Yesus di Bait Allah. Simeon adalah seorang yang benar dan saleh hidupnya. Ia menanti-nantikan seorang Juru Selamat seperti yang dijanjikan dan tak akan mati sebelum berjumpa dengan Sang Penyelamat tersebut. Atas dorongan Roh Kudus, ia datang ke Bait Allah dan berjumpa dengan Maria dan Yosef yang membawa Yesus. Ketika Yesus di bawa masuk ke Bait Allah, Simeon menyambut Yesus dalam tangannya. Ketika melihat dan menerima Yesus, ia tidak ragu-ragu bahwa Yesus adalah Mesias yang dijanjikan Allah.

Saudara-saudari yang baik,
Sikap Simeon adalah contoh teladan yang baik bagi kita, bahwa kita tidak ragu-ragu menyambut dan mengakui bahwa Yesus adalah Mesias yang dijanjikan itu. Yesus adalah buah sulung yang dipersembahkan, dan buah sulung yang bangkit dari antara orang mati. Kita semua mengambil bagian dan kesulungan Yesus, maka kita juga akan mendapat berkat yang sama seperti Yesus.

Saudara-saudari yang baik,
Setelah menerima dan menyambut Yesus, Simeon mengucapkan doa syukur, “Sekarang Tuhan, biarkanlah hamba-Mu ini pergi dalam damai sejahtera……………”. Menarik mencermati doa Simeon ini. Ia berdoa bahwa tidak ada lagi sesuatu yang diharapkan karena ia sudah berjumpa dan menerima Yesus, Sang Juru Selamat. Baginya Yesus adalah segala-galanya. Ia sudah tidak membutuhkan apa-apa lagi, ia sudah tidak terikat lagi dengan banyak hal. Tiada lagi yang dituntut dari Allah. Harus diakui bahwa dalam doa, umat beriman lebih banyak menuntut dari Allah daripada mengucapkan syukur kepada Allah.

Saudara-saudari yang baik,
Mari kita bersama-sama yakin kepada Yesus sebagai penyelamat kita. Dia di atas segala-galanya. Dan mari kita mengucap syukur akan kehadiran Yesus dalam hidup kita. Terima kasih Yesus, atas kesediaan-Mu hadir dalam hidup kami.

Bacaan selanjutnya Mengapa Doa Kita Tidak Dijawab Tuhan?

Salam dan berkat dalam Hati Kudus Yesus,
Rm. F.A. Adi Purnama S, SCJ
2 Februari 2011

Menjamah atau Mendesak (1 Feb 2011)

Berlangganan Tulisan Terbaru dari Kloter 2000 by Email. Gratis !!! Klik Disini
bisnis paling gratis

Kategori Renungan Harian Katolik :  1 Feb 2011
Bacaan I               : Ibrani 12:1-4
Bacaan Injil         : Markus 5:21-43

Saudara-saudari yang baik,
Hari ini bacaan Injil menampilkan dua  kisah. Kisah yang dimaksud adalah kisah pembangkitan anak Yairus dan kisah penyembuhan seorang perempuan yang sakit pendarahan. Kisah pembangkitan anak Yairus menggambarkan kuasa dan wibawa Yesus atas kematian dan kisah penyembuhan perempuan yang sakit pendarahan menggambarkan kuasa Yesus atas penyakit. Kisah yang pertama adalah perjumpaan Yesus dengan Yairus, seorang kepala rumah ibadat. Ia mendapatkan Yesus untuk memohonkan kesembuhan anak perempuannya yang sakit mampir mati. Di saat perjalanan menuju ke tempat Yairus ini, terjadilah kisah penyembuhan seorang wanita yang sakit pendarahan. Wanita ini mendekati Yesus dari belakang supaya tidak dilihat oleh orang (27).

Hal ini disebabkan oleh tradisi keagamaan Yahudi, yang menganggap seorang wanita yang pendarahan adalah wanita yang najis dan kenajisan itu akan menular kepada orang yang menjamahnya. Wanita tersebut hanya menjamah jumbai jubah Yesus (28). Ada kepercayaan bahwa pakaiaan atau benda yang yang dikenakan oleh orang yang dapat menyembuhkan, juga mempunyai daya menyembuhkan.
        
            Wanita tersebut sembuh, dan saat itu Yesus berkata, “Siapa yang menjamah jubah-Ku?” (30). Pertanyaan Yesus ini nampaknya mempunyai dua arti. Pertama, Ia ingin tahu siapa orang tersebut. Kedua adalah Yesus ingin mendapatkan pengakuan terbuka. Hal ini mau menunjukkan suatu ungkapan atau penyataan iman yang benar. Pertanyaan Yesus itu mendapat jawaban dari murid-murid, “Engkau melihat sendiri bagaimana orang-orang ini berdesak-desakan dekat-Mu” (31).  Ada perbedaan besar antara mendesak dan menjamah. Mendesak Yesus, berarti hanya sebatas melihat dan tidak mempunyai unsur lain, sedangkan kata menjamah di dalamnya ada unsur iman pribadi akan kuasa Yesus.

Saudara-saudari yang baik,
Kisah penyembuhan wanita tersebut nampaknya sedikit menghambat perjalanan Yesus untuk segera datang ke tempat Yairus. Nampaknya ini menjadi batu ujian iman bagi Yairus. Apalagi di tengah jalan ia mendengar bahwa anaknya sudah mati (35).  Di sinilah Yesus menampakkan kuasa-Nya akan kebangkitan orang mati dan menyakinkan Yairus akan pengharapan dan imannya.

Saudara-saudari yang baik,
Umat beriman adalah orang yang menjadi pengikut Yesus. Mungkin dalam mengikuti Yesus, kita bisa jadi hanya berdesak-desakan. Mendesak Yesus, dalam arti menyatakan sesuatu hanya berdasarkan keinginan kita, kita mengakui Yesus sebagai Tuhan kalau kita lagi susah (dengan memohon sesuatu kepada-Nya), kita tidak mempunyai relasi yang baik dengan Yesus. Yesus hanya kita lihat saja, berlalu dari hadapan kita, tanpa ada suatu usaha mendekat atau bahkan menjamah-Nya. Menyentuh Dia dan bersatu dengan-Nya. Menjamah, bersatu dan berelasi baik menunjukkan iman yang benar.

Selanjutnya Baca Pesta Yesus Dipersembahkan Ke Kenisah.

Salam dan berkat dalam Hati Kudus Yesus,
Rm. F.A. Adi Purnama S, SCJ
1 Februari 2011

Jangan Takut, Percayalah (29 Jan 2011)

Berlangganan Tulisan Terbaru dari Kloter 2000 by Email. Gratis !!! Klik Disini
Friday, January 28, 2011
bisnis paling gratis

Kategori Renungan Harian Katolik :  29 Jan 2011
Bacaan I             : Ibrani 11:1-2.8-19
Bacaan Injil         : Mrk 4:35-41

Saudara-saudari  yang baik,
Bacaan ini melanjutkan bacaan kemarin. Pada ayat 35, Yesus berkata : "Marilah kita bertolak ke seberang.” Yesus memutuskan menyeberang danau dari tepi barat ke tepi timur. Ada dua kemungkinan mengapa Yesus memutuskan untuk  pergi menyeberang: pertama, untuk membubarkan orang banyak yang mengikuti-Nya, dan yang kedua adalah Yesus ingin mendapatkan suasana baru atau tempat baru bagi pelayanan-Nya. Ketika berada di tengah danau, tiba-tiba angin taufan datang dan mengombang-ambingkan perahu mereka. Pada waktu itu Yesus tertidur. Yesus yang tidur menunjukkan sisi kemanusiaan Yesus. Mungkin Ia kelelahan karena pelayanan-Nya. Ketika Ia dibangunkan oleh para murid, Yesus segera berdiri dan menghardik, berkata kepada danau, “Diam! Tenanglah!” setika itu danau menjadi tenang. Cerita ini mau menunjukkan bahwa Yesus berkuasa atas kekuatan alam.

Saudara-saudari yang terkasih,
Kisah perahu yang diombang-ambingkan angina, mau menunjukkan bahwa Gereja kadang digoncang oleh berbagai peristiwa. Salah satu goncangan besar yang dirasakan oleh Gereja adalah skandal paedofilia yang diekspos besar-besaran oleh media massa. Kasus ini memang ada, dan ini menjadi sarana yang tepat untuk mengdiskreditkan Gereja Katolik. Gereja juga berarti kita, umat beriman. Umat beriman dalam hidup sehari-hari kadang mengalami goncangan atau diterpa oleh berbagai macam persoalan hidup. Di dalam situasi yang demikian umat beriman bisa mengalami ketakutan dan ketak-berdayaan.

Saudara-saudari yang baik,
Hidup taat kepada Allah bukan berarti bahwa umat beriman akan kebal dan tidak akan mengalami kesukaran hidup. Bahaya-bahaya masih mengancam hidup umat beriman yang sedang menjalankan kehendak atau perintah Tuhan. Namun di dalam siatuasi sulit, tidak ada alas an untuk takut dan tak berdaya. Sebagai murid-murid Yesus, seharusnya umat beriman percaya bahwa Yesus tidak akan meninggalkan, membiarkan atau membinasakan karena umat beriman taat dan percaya pada-Nya. Kepercayaan Abraham akan Allah adalah salah satu bukti dan teladan bagi kita, bahwa Allah tidak pernah meninggalkan umat-Nya, yang taat kepada-Nya (bacaan pertama dari Ibrani). “Iman/percaya adalah dasar dari segala kita harapkan.” (Ibr 11:1).

Saudara-saudari yang baik,
Mari jangan takut, percaya pada Yesus, percaya pada Allah, percaya pada Roh Kudus. Kita punya Allah yang dahsyat, Allah yang berkuasa atas segala-galanya, Alah yang baik. Tuhan berkati Anda semua.

Bacaan selanjutnya Menjamah Atau Mendesak.
Salam dan berkat dalam hati Kudus Yesus,
Rm. F.A. Adi Purnama S, SCJ
29 Januari 2011

Percaya dan Tekun (Peringatan St. Thomas Aquino 28 Jan 2011)

Berlangganan Tulisan Terbaru dari Kloter 2000 by Email. Gratis !!! Klik Disini
Thursday, January 27, 2011
bisnis paling gratis

Kategori Renungan Katolik :  Peringatan St. Thomas Aquino 28 Jan 2011
Bacaan I               : Ibrani 10:32-39
Bacaan Injil           : Markus 4:26-34

Saudara-saudari yang baik,
Bacaan Injil pada hari ini menampilkan Yesus yang sedang menjelaskan tentang Kerajaan Allah. Yesus menjelaskan Kerajaan Allah itu menggunakan perumpamaan. Perumpamaan yang diberikan Yesus dalam bacaan ini adalah perumpamaan seorang yang menaburkan benih. Dan benih yang ditaburkan oleh penabur tumbuh secara tersembunyi, tanpa diketahui oleh orang.

Perumpamaan benih yang tumbuh secara tersembunyi ini hanya terdapat dalam Injil Markus. Pada dasarnya perumpamaan ini mau mengatakan bahwa firman Allah itu akan berkarya sendiri dalam hati manusia, jika firman itu diberi kesempatan dalam keadaan yang baik dan cocok.

Cara kerjanya sama seperti bumi yang dengan sendirinya menumbuhkan tanam-tanaman dan menghasilkan buah. Namun dalam hal ini diperlukan juga sarana yang lain (sarana ekternal) yaitu yang menabur dan yang menuai. Di antara kegiatan menabur dan menuai adalah suatu yang harus kita lakukan yaitu percaya akah kehidupan benih dan akan keberhasilan pembauran benih dan tanah.  (Tafsiran Alkitab Masa Kini, buku 3: Matius-Wahyu)

Saudara-saudari yang baik,
Setiap tanggal 28 Januari, Gereja menetapkan sebagai hari peringatan wajib St. Thomas Aguino. Ia lahir di Aguino, dekat Monte Casino Itali pada tahun 1225, dari keluarga bangsawan. Ia diberi gelar ‘Doctor Angelicus’ yang berarti ‘Pujangga Malaikat’. Ia mendapat gelar ini karena selama hidupnya ia banyak menulis yang berhubungan dengan iman dan juga akal budi. Ia pernah mendapat penampakan dari Yesus, dan Yesus yang tersalib mengatakan kepadanya: “Thomas, engkau telah menulis sangat baik tentang Diri-Ku. Balasan apakah yang kauinginkan daripada-Ku?” dan Thomas menjawab, “Tidak lain hanyalah Diri-Mu.”

Saudara-saudari yang baik,
St. Thomas menunjukkan suatu teladan yang luar biasa bagi kita. Teladan yang ia berikan adalah, ia menjadi tanah yang baik bagi perkembangan benih yang ditaburkan. Benih yang adalah firman Allah itu ia renungkan dan ia hidupi. Hasil dari renungan itu ia tuangkan dalam tulisan-tulisan yang sangat baik, yang sampai hari ini masih menjadi salah satu buku acuan bagi para teolog. Buku yang sangat terkenal warisan St. Thomas adalah Summa Theologia. St.

Saudara-saudari yang baik,
Kita semua sudah menerima benih dan ingin benih itu bertumbuh menjadi besar. Namun timbul pertanyaan mengapa benih itu kadang tidak bertumbuh? Satu jawabannya yaitu kurang percaya dan kurang tekun dalam menghidupi benih itu. Kadang manusia malas, dan kadang mudah bosan, sehingga pada akhirnya benih itu ya tidak bertumbuh.  Maka sembari percaya, kita harus bertekun di dalam menghidupi benih (firman Allah).

Bacaan selanjutnya Jangan Takut, Percayalah.

Salam dan berkat dalam Hati Kudus Yesus
Rm. F.A Adi Purnama S, SCJ
28 Januari 2011

Pesta Bertobatnya St. Paulus (25 Januari 2011)

Berlangganan Tulisan Terbaru dari Kloter 2000 by Email. Gratis !!! Klik Disini
Monday, January 24, 2011
bisnis paling gratis

Kategori Renungan Harian Katolik : 25 Januari 2011
Bacaan I               : Kis 22:3-16
Bacaan Injil           : Mrk 16:15-18

Saudara-saudari yang baik,
Hari ini adalah hari Pesta Bertobatnya St. Paulus. St. Paulus dalam  Gereja Katolik mempunyai peranan yang sangat penting dalam perkembangan Gereja. Kisah hidup dan pelayanannya dapat kita ikuti dari Kisah Para Rasul dan terlebih dari surat-surat yang tulis, baik untuk jemaat maupun untuk beberapa pribadi. Salah satu kisah hidupnya yang menarik adalah kisah pertobatannya. Sebelum bertobat, Paulus dikenal bernama Simon, orang yang sangat bersemangat mengejar, menganiaya  dan membunuh para pengikut Yesus.  "Aku adalah orang Yahudi, lahir di Tarsus di tanah Kilikia, tetapi dibesarkan di kota ini; dididik dengan teliti di bawah pimpinan Gamaliel dalam hukum nenek moyang kita, sehingga aku menjadi seorang yang giat bekerja bagi Allah sama seperti kamu semua pada waktu ini. Dan aku telah menganiaya pengikut-pengikut Jalan Tuhan sampai mereka mati; laki-laki dan perempuan kutangkap dan kuserahkan ke dalam penjara.” (Kis. 22:3-4).

Saudara-saudara yang baik,
Semua ini berubah, Paulus bertobat setelah berjumpa dengan Yesus sendiri. “Saulus, Saulus, mengapakah engkau menganiaya Aku? Jawabku: Siapakah Engkau, Tuhan? Kata-Nya: Akulah Yesus, orang Nazaret, yang kauaniaya itu.” (Kis 22:7-8). Paulus bertobat setelah berjumpa dengan Yesus dan mau mendengarkan perkataan Yesus. Perjumpaan dengan Yesus sungguh mengubah haluan hidup Paulus, yang tadi sebagai penganiaya iman menjadi pewarta dan pembela iman yang paling gigih.

Saudara-saudari yang baik,
Pesta pertobatan Paulus sebenarnya mengajak kita semua untuk bertobat. Tentunya pertobatan yang diharapkan adalah pertobatan yang sejati, yang mengubah hidup kita. Pertobatan yang sejati ini sungguh dapat terwujud dalam hidup kita kalau kita sungguh mengalami perjumpaan sejati dalam Yesus, berjumpa dengan Yesus dari hati ke hati. Mau duduk, diam dan bersehati dengan Yesus. Maka marilah kita bersama-sama berusaha bersehati dan mengalami kehadiran Yesus sehingga kita sungguh bisa mengubah hidup kita.

Bacaan selanjutnya Percaya dan Tekun.

Salam dan berkat dalam Hati Kudus Yesus
Rm. F.A. Adi Purnama S, SCJ
25 Januari 2011

Kerajingan (22 Januari 2011)

Berlangganan Tulisan Terbaru dari Kloter 2000 by Email. Gratis !!! Klik Disini
Friday, January 21, 2011
bisnis paling gratis

Kategori Renungan Harian Katolik : 22 Januari 2011
Bacaan I             : Ibrani 9:2-3.11-14
Bacaan Injil         : Markus 3:20-21

Saudara-saudari yang baik,
Bacaan Injil hari ini sangat singkat. Pada ayat 20 dicatat bahwa Yesus bersama murid-murid-Nya masuk ke sebuah rumah. Tidak disebutkan rumah siapa yang dimasuki. Mungkin rumah yang dimasuki adalah rumah Simon dan Andreas yang ada di Kapernaun.  Di rumah ini mereka makan, namun sedang asyik-asyiknya menikmati makanan tiba-tiba banyak orang datang  menggerumuni mereka. Yang menarik pada saat kerumunan itu, ada keluarga Yesus yang datang hendak mengambil Yesus, karena menurut anggapan  mereka  “Yesus tidak waras lagi”.

Saudara-saudari yang baik,
Kata ‘tidak waras lagi’ dalam ayat ini bukan berarti Yesus sudah gila atau kehilangan akan sehat. Di sini mau menunjukkan bahwa Yesus sedang kerajingan keagamaan atau keterlaluan atau bahasa modern sekarang over dosis keagamaan. Ini adalah anggapan keluarga Yesus.

Saudara-saudari yang baik,
Sebagaimana kita ketahui Yesus tidak sedang kerajingan atau over dosis keagamaan, namun Yesus sedang menjalankan tugas perutusan mulai dari Allah Bapa. Nah, yang kerajingan justru kita manusia. Ada begitu banyak bentuk kerajingan, misalnya sekarang sedang demam Facebook, main games, kerajingan kuliner (karena ada program TV tentang kuliner), kerajingan mancing dan lain sebagainya. Yang namanya kerajingan biasanya membawa efek negatif.

Saudara-saudari yang baik,
Mari melihat dalam kehidupan dan diri, apakah ada suatu bentuk kerajingan yang Anda hidupi? Apakah itu membawa nilai positif atau negatif?

Bacaan selanjutnya Pesta Bertobatnya St. Paulus.

Salam dan berkat dalam Hati Kudus Yesus
Rm. F.A. Adi Purnama S, SCJ
22 Januari 2011

Yesus Memilih Para Murid (21 Januari 2011)

Berlangganan Tulisan Terbaru dari Kloter 2000 by Email. Gratis !!! Klik Disini
Thursday, January 20, 2011
bisnis paling gratis

Kategori Renungan Harian Katolik : 21 Januari 2011
Peringatan Wajib St. Agnes (Perawan dan Martir)
Bacaan I               : Ibrani  8:6-13
Bacaan Injil         : Markus 3:13-19

Saudara-saudari yang baik,
Bacaan Injil hari ini melajutkan bacaan kemarin, di sini digambarkan Yesus pergi ke atas bukit. Markus tidak mencatat untuk apa Yesus pergi ke atas bukit. Namun Lukas melengkapi catatan Markus, “Yesus pergi ke atas bukit untuk berdoa dan semalam-malam Ia berdoa kepada Allah” (Luk 6:12). Yesus melakukan semua ini sebagai persiapan untuk memilih kedua belas murid yang disebut dua belas rasul. Para rasul dipilih oleh Yesus dengan kebijaksanaan dan kekudusan. Yesus memanggil orang-orang yang dikehendaki-Nya, bukan karena kesukaan orang-orang yang memilih Yesus.

Saudara-saudari yang baik,
Hari ini Gereja meperingati Sta. Agnes, seorang perawan dan martir. Agnes dilahirkan di Roma pada tahun 291. Ia cantik dan simpati, lagi ramah. Banyak pemuda yang jatuh cinta padanya bahkan banyak di antara mereka mengajukan lamaran. Namun lamaran ditolak. Agnes ternyata sudah berkaul untuk tetap perawan dan setiap pada Yesus. Pemuda-pemuda yang sakit hati karena lamarannya ditolak, melaporkan Agnes kepada pengadilan Romawi, sebagai orang Kristen. Pada waktu itu, orang-orang Kristen dikejar dan dianiaya, bahkan dibunuh oleh penguasa Romawi. Agnes ditangkap dan di hadapan pengadilan Romawi, ia ditakut-takuti, diancam dibunuh, dan dituduh sebagai pelacur. Tetapi Agnes tidak takut, ia menolak segala tuduhan padanya. Ia tetap mempertahankan kemurniannya. Baginya Yesus adalah segala-galanya. Yesus pasti akan menyertai dan menjaganya. Karena ancaman tidak berhasil, maka Agnes dipenggal kepalanya. Ia dipenggal setelas selesai berdoa.  Peristiwa ini terjadi pada tahun 304. Agnes dilukiskan sedang mendekap seekor Anak Domba sebagai lambang kemurnian dan sedang memegang daun palem, sebagai lambing keberanian.

Saudara-saudari yang baik,
Kita ini adalah orang-orang yang dipilih sesuai dengan kehendak Yesus. Para murid jelas sudah mendengar dan menjadi saksi mata apa yang dibuat oleh Yesus, dan ketika mereka dipilih oleh Yesus, mereka langsung mengikuti-Nya. Masing-masing dari kita mempunyai pengalaman pribadi mengapa “Anda menjadi pengikut Yesus?”.  Mari dan silahkan Anda melihat diri, pengalaman apa, atau peristiwa apa yang dipakai oleh Yesus memilih Anda?

Bacaan selanjutnya Kerajingan.

Salam dan berkat dalam Hati Kudus Yesus,
Rm. F.A. Adi Purnama S, SCJ  
21 Januari 2011

Bebas Dari Himpitan (20 Januari 2011)

Berlangganan Tulisan Terbaru dari Kloter 2000 by Email. Gratis !!! Klik Disini
Wednesday, January 19, 2011
bisnis paling gratis

Kategori Renungan Harian Katolik : 20 Januari 2011
Bacaan I          : Ibrani 7:25-8:6
Bacaan Injil      : Mrk 3:7-12

Saudara-saudari yang baik,
Bacaan Injil hari ini menampilkan Yesus yang menyingkir ke Danau Galilea. Tindakan ini diambil oleh Yesus bersama murid-murid-Nya untuk menghidari diri dari bahaya yang mengancam mereka. Sebagaimana kita baca dalam Injil kemarin Mrk 3:1-6, dikisahkan setelah Yesus menyembuhkan orang yang lumpuh sebelah tangannya, orang Farisi bersekongkol dengan orang Herodian untuk membunuh Yesus. Keputusan Yesus untuk pergi menghindar adalah keputusan yang bijaksana dan tepat demi pelayanan-Nya.

Jadi tindakan ini bukanlah tindaka pengecut dari Yesus. Namun sesampainya di Danau Galilea banyak orang yang datang kepada-Nya. Di sini dituliskan orang-orang itu berasal dari Galilea, Yudea, Yerusalem, Idumea, Tirus serta Sidon. Kehadiran orang-orang dari tempat-tempat di atas menunjukkan bahwa Yesus merupakan pribadi yang popular di hampir  seluruh Palestina. Semua orang yang datang kepada-Nya berdesakkan minta dijamah oleh-Nya agar mereka disembuhkan dari berbagai macam penyakit dan dibebaskan dari kekuatan setan. Karena desakan orang banyak itu maka Yesus menyuruh murid-murid-Nya menyediakan sebuah perahu bagi-Nya, jangan sampai Dia terhimpit oleh mereka (3:9).

Saudara-saudari yang baik,
Dalam kehidupan sehari-hari, kita juga mempunyai banyak kegiatan, atau persoalan hidup. Kegiatan yang banyak berupa  kerja, kegiatan masyarakat, kegiatan menggereja. Persoalan hidup mungkin juga banyak dialami oleh kita misalnya: persoalan rumah tangga, ekonomi, kesehatan, dll.  Semua itu mungkin kita rasakan sebagai sesuatu yang menghimpit kita. Kita tidak bisa bergerak  dengan bebas, kita merasa sangat sesak, kita merasa berat untuk melangkah, hidup penuh kegelisahan. Wajah tidak bisa menampilkan senyum di bibir. Semua terasa sakit seperti jarum yang menusuk kulit.

Saudara-saudari yang baik,
Ketika Yesus hampir terjepit, Ia menyuruh murid-murid-Nya menyediakan perahu. Perahu di sini adalah sarana yang digunakan oleh Yesus untuk menghindar dari himpitan itu. Kata perahu menunjukkan suatu sarana praktis untuk mengendalikan keadaan. Kita dalam segala kegiatan dan persoalan hidup hendaknya juga menyediakan sebuah perahu, yaitu menarik diri dari kegiatan dan persoalan hidup itu. Dengan sedikit menarik diri, kita bisa melihat semua persoalan hidup dengan jernih, sehingga kita bisa melihat jalan penyelesaian. Semakin kita terhimpit, semakin kita tidak bisa melihat apa-apa. Dengan menarik diri sejenak dari kegiatan, kita disegarkan jiwa dan raga kita. Banyak orang kadang tidak menyadari bahwa mereka harus menarik diri sejenak dari semua kegiatan dan persoalan hidup mereka.

Saudara-saudari yang baik,
Kita perlu perahu yang di dalamnya Allah ada dan siap membantu kita. Allah adalah nakoda perahu yang siap mengarahkan dan mengantar kita pada kebaikan hidup kita. Marilah kita menyediakan waktu untuk diri kita, bersama dengan Allah dan di dalam Allah.

Bacaan selanjutnya Yesus Memilih Para Murid.

Salam dan berkat di dalam Hati Kudus Yesus
Rm. F.A. Adi Purnama S, SCJ
20 Januari 2011




Kebenaran (19 Jan 2011)

Berlangganan Tulisan Terbaru dari Kloter 2000 by Email. Gratis !!! Klik Disini
bisnis paling gratis

Kategori Renungan Harian Katolik : 19 Jan 2011
Bacaan I: Ibrani 7:1-3,15-17
Bacaan Injil: Markus 3:1-6

"Manakah yang diperbolehkan pada hari Sabat, berbuat baik atau berbuat jahat."  (Mrk 3:4)

Saudara-saudari yang baik,
Bacaan injil hari ini, Mrk 3:1-6, ditampilkan kisah penyembuhan yang dilakukan Yesus pada hari Sabat. Hari Sabat adalah hari yang kudus bagi umat Israel. Orang diharuskan memuji Allah, dan tidak boleh melakukan kegiatan yang lain. Hari Sabat adalah hari yang dikuduskan bagi Allah. Pada suatu hari Sabat Yesus masuk ke rumah ibadat dan di situ ada orang yang mati sebelah tangannya. Yang menarik dalam kisah ini adalah sikap orang Farisi yang mengamati-amati Yesus, kalau-kalau Yesus menyembuhkan orang tersebut. Dan ini adalah kesemptan untuk menyalahkan Yesus. 

Saudara-saudari yang baik,
banyak orang juga kadang bisa bersikap seperti orang Farisi, mengamati-amati untuk orang lain untuk menjatuhkan atau menghukum orang tersebut. Sikap demikian biasanya didasari oleh sikap iri hati, dendam atau merasa disaingi. Ketika sikap-sikap ini mendasari hidup seseorang, maka orang tidak bisa lagi melihat kebaikan atau kebenaran yang ada pada diri orang lain. Orang ini merasa bahwa dia yang paling benar, yang lain salah. Jika sikap merasa benar dan yang lain salah terus hidup, maka yang selanjut terjadi adalah timbul sikap arogansi, anarkis.

Saudara-saudari yang baik,
Yesus berkata, "Manakah yang diperbolehkan pada hari Sabat, berbuat baik atau berbuat jahat." ( 3:4). Melalui kata-kata ini, Yesus sebenarnya mau menyadarkan orang Farisi, bahwa pada hari Sabat, hari kudus Tuhan, orang justru harus melakukan kebaikan. Melalui kebaikan itu orang, orang dapat memuji Allah. Kekudusan itu pasti bersifat baik bukan sebaliknya. Yesus mau menunjukkan suatu sikap atau tindakkan yang benar terhadap hari Sabat.

Saudara-saudari yang baik,
umat beriman juga diharapkan bisa bersikap atau melakukan tindakan yang benar terhadap suatu keadaan, peristiwa atau terhadap orang lain. Hal ini juga dilakukan oleh Imam Melkisedek yang selama hidupnya melakukan sesuatu yang benar. Melkisedek dikenal sebagai raja kebenaran (Ibr  7:2). Maka marilah kita berusaha bersikap dan berlaku benar dalam segala hal.

Bacaan selanjutnya Bebas Dari Himpitan.

Salam dan berkat dalam Hati Kudus Yesus,
Rm. F.A. Adi Purnama S, SCJ
19 Januari 2011

Pengharapan (18 Jan 2011)

Berlangganan Tulisan Terbaru dari Kloter 2000 by Email. Gratis !!! Klik Disini
Monday, January 17, 2011
bisnis paling gratis

Kategori Renungan Harian Katolik :  18 Jan 2011
Bacaan:
Pertama: Ibr 6:10-20
Injil: Mrk 2:23-28

 "...kalian jangan menjadi lamban, tetapi tetap bersemangat mengikuti jejak mereka yang  oleh iman 
dan kesabaran mendapat bagian dalam apa yang dijanjikan Allah."
(Ibr 6:12).

Saudara-saudara yang baik,
apakah Anda punya harapan? Jawabannya pasti ada. Setiap orang pasti mempunyai harapan di masa yang akan  datang. Ada berbagai macam harapan, yang pasti harapan itu menunjuk kepada suatu kebaikan atau kemajuan. Semua orang berharap bahwa pengharapan itu dapat terwujud di dalam kehidupan mereka. Namun ada kalanya harapan tinggal harapan karena harapan tidak terwujud.

Saudara-saudari yang baik,
dalam bacaan pertama hari ini, Ibr 6:10-20, penulis menasihatkan kepada para jemaat di Ibrani, agar tetap mempunyai pengharapan dalam segala situasi hidup. Umat beriman harus tetap bersemangat dan bersungguh-sungguh berusaha melakukan tugas kehidupan mereka,  terutama dalam mewujudkan harapan-harapan. Umat beriman harus sabar. Kesabaran adalah salah satu keutamaan hidup umat beriman. 

Saudara-saudari yang baik,
keutamaan kesabaran memberikan kepada umat beriman pemahaman bahwa Allah telah menyediakan sesuatu kepada kita. Di sini dibutuhkan iman/kepercayaan yang teguh dari umat beriman. Iman akan Allah yang tidak meninggalkan umat-Nya, yang setia dan pasti akan menepati janji-Nya. Karena itu Saudara-saudari yang baik, Marilah kita tetap bersabar dalam pengharapan kita dan tetap percaya bahwa Allah pasti akan menggabulkan pengharapan itu. Dan pengharapan tidak mengecewakan, karena kasih Allah telah dicurahkan di dalam hati kita oleh Roh Kudus yang telah dikaruniakan kepada kita. "Semoga Allah, sumber pengharapan, memenuhi kamu dengan segala sukacita dan damai sejahtera dalam iman kamu, supaya oleh kekuatan Roh Kudus kamu berlimpah-limpah dalam pengharapan." (Rom 15:13).

Bacaan selanjutnya Kebenaran.
Salam dan berkat dalam hati Kudus Yesus
Rm. F.A. Adi Purnama S, SCJ
18 Januari 2011